Scroll untuk baca artikel
Example 300250
Example floating
Example floating
Example 728x250
OPINI

Empat Unsur Alam – Ada yang Dilihat, Ada yang Hanya Dapat Dirasakan

175
×

Empat Unsur Alam – Ada yang Dilihat, Ada yang Hanya Dapat Dirasakan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Rusmin, Pimpinan Redaksi Media Centerinvestigasi.id

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, kita sering kali memandang alam hanya sebagai latar. Padahal, di sekeliling kita ada empat unsur yang setia menemani, namun sering kita anggap remeh. Tanah, api, angin, dan air. Keempatnya tampak biasa, tapi menyimpan kekuatan yang bisa mengubah hidup kita dalam sekejap ketika keseimbangannya terganggu.

Example 300×600

Pertama, tanah. Ia adalah unsur yang paling sabar. Setiap hari ia kita injak, kita cangkul, kita bangun di atasnya. Ia diam dan menerima. Namun ketika ia terusik dan kehilangan keseimbangan, kesabarannya berubah menjadi murka. Longsor menimbun harapan, tanah amblas menelan jalan, dan gempa mengguncang apa yang kita anggap kokoh. Dalam hitungan detik, yang kuat bisa runtuh.

Kedua, api. Kita mengenalnya sebagai Si Jago Merah. Sejak kecil kita diajarkan memanfaatkannya. Api mengepul di dapur untuk memasak, memberi cahaya di kala gelap, dan menghangatkan tubuh di dingin malam. Ia sahabat manusia. Tapi begitu lepas kendali, ia tak lagi bersahabat. Ia melahap rumah, menghanguskan ladang dan hutan, dan hanya menyisakan abu serta puing yang berserakan. Dari api kita belajar, kebaikan yang tak terkendali bisa menjadi bencana.

Ketiga, angin. Unsur yang paling misterius. Berbeda dengan tiga lainnya, angin tidak bisa dilihat, hanya bisa dirasakan. Kita tahu ia ada dari sejuk yang menyentuh kulit, dari daun yang bergoyang, dan dari awan yang berarak. Saat tenang, ia menyejukkan dan menenangkan. Namun saat ia mengamuk, wujudnya yang tak terlihat itu menjelma menjadi badai dan puting beliung. Ia merobohkan pohon besar, menerbangkan atap rumah, dan memporak-porandakan pemukiman. Angin mengajarkan kita satu hal penting: jangan pernah meremehkan sesuatu hanya karena tidak terlihat. Justru yang tak tampak itulah yang sering kali paling berpengaruh.

Keempat, air. Unsur yang paling merendah. Ia rela dimanfaatkan untuk segala keperluan. Kita minum untuk melepas dahaga, kita gunakan untuk memasak, mencuci, dan menghidupi sawah. Sifatnya selalu mencari tempat yang lebih rendah, sebuah filosofi tentang kerendahan hati. Tetapi ketika ia marah, kerendahan itu berubah menjadi kekuatan yang dahsyat. Banjir bandang menerjang, dan tsunami meluluhlantakkan peradaban di tepi pantai. Air mengingatkan kita bahwa kelembutan pun memiliki batas.

Dari keempat unsur ini, alam memberi kita pelajaran yang sama: Alam bukan objek yang bisa kita perlakukan semena-mena. Ia adalah sistem kehidupan yang harus kita jaga keseimbangannya.

Ada kekuatan yang tampak jelas di depan mata, seperti tanah dan air. Ada pula kekuatan yang hanya bisa kita rasakan kehadirannya, seperti angin. Keduanya sama-sama memiliki konsekuensi besar bila kita abai.

Sudah saatnya kita berhenti menjadi penonton yang acuh. Mari lebih peduli, menjaga keseimbangan lingkungan, dan peka membaca tanda-tanda alam sejak dini. Karena kewaspadaan adalah cara paling sederhana untuk menghormati kekuatan alam yang selama ini memberi kita kehidupan.

 

— Centerinvestigasi.id – Opini —

Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250
Penulis: RusminEditor: Min
Example 120x600
Example 300×600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *