๐ Opini | Centerinvestigasi.id
๐๏ธ Selasa, 18 Juni 2025
โ๏ธ Oleh: Rusmin
Ketua II Dewan Pimpinan Pusat Serikat Pers Reformasi Nasional (DPP–SEPERNAS)
Pimpinan Redaksi Media Center Investigasi
DALAM dinamika kehidupan, keluarga adalah tiang utama yang menopang kokohnya nilai moral dan spiritual seseorang. Namun, cinta dan kesetiaan dalam keluarga bukan sekadar kata indah, melainkan amanah yang kerap diuji oleh keadaan. Ujian ini datang bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk mengukur kualitas hati dan keteguhan iman kita.
Salah satu ujian yang paling berat adalah ketika seorang suami diuji oleh sakitnya istri. Di sinilah ketulusan cinta benar-benar teruji. Mampukah seorang suami tetap sabar, setia, dan penuh kasih, sebagaimana Rasulullah ๏ทบ yang terkenal lembut dan peduli terhadap istri-istrinya?
Di sisi lain, kesetiaan istri juga diuji saat suami mengalami kesulitan ekonomi. Dalam keadaan sempit, muncul pertanyaan: adakah cinta yang masih bersandar pada iman, bukan sekadar kenyamanan materi? Khadijah radhiyallahu โanha adalah contoh nyata wanita mulia yang mendampingi Rasulullah ๏ทบ di masa-masa tersulit, dengan penuh keyakinan dan pengorbanan.
Tak hanya pasangan suami istri, anak-anak pun diuji saat orang tua memasuki usia senja. Di saat orang tua tak lagi berdaya, apakah anak-anak mampu bersikap lembut dan penuh hormat? Allah ๏ทป berfirman dalam Al-Qurโan:
> โDan rendahkanlah dirimu terhadap mereka dengan penuh kasih sayang…โ
(QS. Al-Isra: 24)
Sayangnya, hari ini kita masih melihat kenyataan pahit: banyak orang tua yang diabaikan, bahkan diperlakukan tak layak oleh anak-anaknya sendiri.
Ujian lainnya adalah konflik kakak beradik dalam pembagian warisan. Sering kali hubungan darah dikalahkan oleh rasa iri, tamak, dan ego. Padahal Rasulullah ๏ทบ menekankan pentingnya menjaga silaturahim dan menjauhi pertikaian yang memecah belah keluarga. Warisan bukanlah medan perebutan, melainkan ladang keadilan dan kedewasaan.
Rasulullah ๏ทบ bersabda:
> โBarang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan memberinya ujian.โ
(HR. Bukhari)
Ujian-ujian dalam keluarga seharusnya menjadi momen muhasabah untuk memperkuat ikatan, bukan memutuskannya. Kita diuji agar menjadi pribadi yang lebih sabar, ikhlas, dan bertanggung jawabโbukan sekadar menang secara emosional, tetapi juga menang secara spiritual.
Sebagai Ketua II DPP-SEPERNAS dan Pimpinan Redaksi Media Center Investigasi, saya percaya bahwa keluarga yang tangguh bukanlah keluarga yang bebas dari cobaan, melainkan keluarga yang mampu melalui badai dengan saling menggenggam tangan, bersandar pada nilai iman dan kasih sayang yang diridhai Allah.
Maka mari kita jaga keluarga kitaโbukan hanya dengan kata-kata manis, tapi dengan ketulusan saat ujian datang. Sebab cinta yang sejati adalah cinta yang tidak luntur meski diterpa ujian dunia.



















