Kolaka ,Centerinvestigasi.id 20 Mei 2026– Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram di Kecamatan Wolo, khususnya di Kelurahan Wolo, dalam sepekan terakhir kian memicu sorotan. Selain sulit diperoleh, harga di tingkat pengecer dilaporkan melonjak hingga Rp40.000 per tabung, jauh melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Tim Investigasi & Report Biro Kolaka yang melakukan penelusuran lapangan menemukan adanya dugaan ketidakwajaran dalam rantai distribusi gas bersubsidi tersebut. Sejumlah warga mengaku kesulitan mendapatkan elpiji di pangkalan resmi, namun di sisi lain gas justru beredar di pengecer dengan harga tinggi.
Seorang sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan menyebutkan adanya indikasi praktik penyaluran di luar ketentuan. Ia menduga terdapat oknum pangkalan yang menyalurkan elpiji tidak sesuai wilayah izin operasionalnya.
“Di pangkalan sering kosong, tapi di pengecer ada, hanya saja harganya mahal. Ini yang jadi pertanyaan masyarakat,” ungkapnya kepada tim investigasi.
Temuan ini mengarah pada dugaan adanya rantai distribusi yang tidak tepat sasaran, sehingga berpotensi memicu kelangkaan buatan dan kenaikan harga di tingkat konsumen. Namun demikian, hingga saat ini belum terdapat bukti resmi yang menguatkan adanya pelanggaran, sehingga diperlukan pendalaman lebih lanjut oleh pihak berwenang.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak pangkalan maupun instansi terkait belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi tersebut. Redaksi masih berupaya melakukan konfirmasi untuk mendapatkan penjelasan berimbang.
Pengamat kebijakan publik menilai, jika dugaan ini terbukti, maka hal tersebut dapat merugikan masyarakat serta mencederai tujuan subsidi pemerintah yang seharusnya tepat sasaran bagi warga kurang mampu.
Pemerintah daerah bersama instansi pengawas distribusi energi diharapkan segera melakukan inspeksi lapangan, penelusuran jalur distribusi, serta penindakan tegas jika ditemukan pelanggaran.
Masyarakat pun didorong untuk aktif melaporkan apabila menemukan praktik penjualan di atas HET atau distribusi yang tidak sesuai aturan.
Kasus ini menjadi ujian bagi sistem pengawasan distribusi elpiji subsidi di daerah. Transparansi dan ketegasan dinilai menjadi kunci untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat sekaligus menjamin ketersediaan energi bersubsidi secara adil.
Pewarta : Dulman
Editor : Redaksi



















