SIDRAP, CENTERINVESTIGASI.ID — Sidenreng Rappang (Sidrap) sedang berada di persimpangan sejarah. Daerah yang dahulu harum sebagai lumbung beras, lumbung telur, dan gudang para cendekiawan ini, dalam beberapa tahun terakhir harus berhadapan dengan stigma negatif akibat maraknya kasus penipuan daring (sobis) yang melibatkan sebagian oknum warganya.
Namun, Sidrap tidak boleh menyerah pada stigma.
Sidrap memiliki sejarah panjang, budaya luhur, tokoh-tokoh besar, dan etos kerja kuat yang diwariskan secara turun-temurun. Slogan “Sidrap Pekerja Keras” yang dicanangkan Bupati Sidrap, Sirajuddin Arif, menjadi momentum penting untuk membalikkan keadaan.
Simbol Pangan yang Tak Boleh Pudar
Jauh sebelum istilah sobis merebak, Sidrap telah dikenal sebagai salah satu daerah pilar penopang pangan di Sulawesi Selatan. Hamparan sawah yang luas, sektor peternakan yang berkembang, serta produksi telur yang masif menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat.
Petani, peternak, pedagang, dan pelaku usaha lokal hidup matian dari hasil kerja keras yang halal. Identitas ini sejatinya belum hilang, melainkan perlu dihidupkan kembali sesuai konteks zaman. Sidrap harus tetap menjadi lumbung pangan, sekaligus bertransformasi menjadi lumbung kewirausahaan, pendidikan, dan sumber daya manusia (SDM) unggul.
Tradisi Intelektual dan Warisan Tokoh Besar
Selain sektor agraris, Sidrap memiliki tradisi intelektual yang kuat. Daerah ini memiliki keterkaitan genealogis dengan sejumlah tokoh akademisi dan ulama terkemuka nasional, seperti keluarga besar Prof. Dr. Quraish Shihab, Prof. Dr. Umar Shihab, hingga Dr. Alwi Shihab.
Fakta sejarah ini membuktikan bahwa masyarakat Sidrap memiliki potensi besar dalam bidang pendidikan dan keilmuan. Dari pelosok desa di Sidrap, telah lahir para profesor, doktor, ulama, akademisi, dan pemimpin bangsa. Ini adalah warisan tak ternilai yang harus dilanjutkan oleh generasi muda.
Lawan Stigma, Tegaskan Identitas
Penangkapan 12 warga yang diduga terlibat aktivitas sobis oleh aparat kepolisian dari Jawa Barat baru-baru ini menjadi peringatan keras. Peristiwa tersebut menegaskan bahwa perkembangan teknologi komunikasi bagai pisau bermata dua.
Teknologi dapat membawa kemajuan jika dimanfaatkan untuk pendidikan, perdagangan, pertanian modern, dan ekonomi kreatif. Sebaliknya, teknologi menjadi alat kejahatan apabila disalahgunakan untuk menipu.
Masyarakat Sidrap harus secara tegas menyatakan: Sobis bukan identitas Sidrap.
Perbuatan segelintir oknum tidak boleh mendiskreditkan seluruh warga. Di balik berita negatif tersebut, masih ada jutaan warga Sidrap yang setiap hari memeras keringat di sawah, mengurus ternak, mengajar, berkuliah, dan berdagang secara jujur.
“Sidrap Pekerja Keras” Harus Jadi Gerakan Sosial
Slogan “Sidrap Pekerja Keras” tidak boleh berhenti sebagai jargon politik belaka, melainkan harus diwujudkan dalam aksi nyata:
Pertanian & Peternakan: Pemerintah daerah perlu memfasilitasi pemuda yang ingin bertani atau beternak dengan teknologi modern, pembinaan, dan akses permodalan.
Perdagangan & Usaha: Buka akses pasar dan ciptakan iklim usaha yang sehat bagi para wirausahawan muda.
Pendidikan: Dorong dan fasilitasi anak muda untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya.
Dengan memberi ruang berkarya, generasi muda tidak akan tergiur mengambil jalan pintas meraih kekayaan. Kerja keras harus menjadi budaya, kejujuran sebagai karakter, dan ilmu pengetahuan sebagai bekal utama.
Menghidupkan Kembali Falsafah Nene’ Mallomo
Di tengah tantangan modernisasi, falsafah Nene’ Mallomo menemukan kembali relevansinya. Nene’ Mallomo bukan sekadar figur dalam buku sejarah, melainkan simbol nilai kejujuran, keteguhan, tanggung jawab, dan keberanian mempertahankan prinsip.
Sidrap tidak perlu mencari jati diri baru. Modal budaya itu sudah ada, tinggal dihidupkan kembali dalam kehidupan bermasyarakat—di sekolah, kampus, pasar, hingga lingkungan keluarga.
Saatnya Mengubah Narasi
Masa depan Sidrap harus ditulis oleh para petani, peternak, pedagang jujur, guru, mahasiswa, ulama, dan pemuda yang memilih jalan kerja keras. Dunia harus melihat Sidrap bertransformasi: dari “Sidrap dan Sobis” menjadi “SIDRAP DAN KERJA KERAS.”
Kekayaan terbesar Sidenreng Rappang bukanlah sekadar sawah atau ternaknya, melainkan manusianya. Jika manusia Sidrap kembali menjunjung tinggi kejujuran dan memegang teguh falsafah Nene’ Mallomo, stigma negatif apa pun tidak akan mampu meruntuhkan nama besar daerah ini.
Sidrap harus bangkit. Sidrap harus bekerja. Sidrap harus kembali menjadi daerah yang dibanggakan!
Opini oleh:
Drs. H. Burhanuddin B., M.A.
(Pembina DPW LSM BPPI Sulawesi Selatan)




















