Scroll untuk baca artikel
Example 300250
Example floating
Example floating
Example 728x250
BERITABREAKING NEWSDAN LAIN - LAINORGANISASI

Berliterasi dengan Cara Unik, Tenggara Reading House Hadirkan “Literasi on The Roof”, Membaca di Atas Atap Sembari Menikmati Senja

18
×

Berliterasi dengan Cara Unik, Tenggara Reading House Hadirkan “Literasi on The Roof”, Membaca di Atas Atap Sembari Menikmati Senja

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Kolaka Utara,Centerinvestigasi.id – Di tengah derasnya arus digital yang perlahan menggeser kebiasaan membaca masyarakat, Komunitas Tenggara Reading House (TRH) kembali menghadirkan inovasi dalam gerakan literasi. Mengusung konsep yang tidak biasa, TRH menggelar kegiatan bertajuk “Literasi on The Roof” pada Rabu (5/8/2026).

‎Berkolaborasi dengan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara (Mapala UMKOTA) dan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) UMKOTA, kegiatan tersebut mengubah sebuah atap bangunan menjadi ruang belajar yang terbuka. Di tempat sederhana itu, puluhan buku tersusun rapi, peserta duduk melingkar, berdiskusi, membaca, dan berbagi cerita, sementara langit sore perlahan berubah jingga menjelang matahari terbenam.

‎Tidak ada dinding perpustakaan yang membatasi pandangan. Tidak ada suasana yang kaku. Hanya semilir angin, cahaya senja yang hangat, serta percakapan tentang buku, kehidupan, dan masa depan yang mengalir begitu saja.

‎Konsep ini menjadi pengalaman baru bagi para peserta. Literasi tidak lagi dipandang sebagai aktivitas yang monoton, melainkan sebuah perjalanan yang menyenangkan dan mampu menghadirkan ketenangan di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.

‎Founder Tenggara Reading House, Akbar Pelayati, mengatakan bahwa Literasi on The Roof lahir dari keinginan menghadirkan ruang belajar yang lebih dekat dengan alam sekaligus mematahkan anggapan bahwa membaca hanya dapat dilakukan di ruang-ruang formal.


‎”Kami percaya bahwa literasi tidak memiliki batas ruang. Membaca bisa dilakukan di mana saja, bahkan di atas atap. Justru ketika seseorang berada di tempat yang nyaman, terbuka, dan dekat dengan alam, proses membaca menjadi lebih hidup. Buku tidak hanya dibaca, tetapi juga dirasakan dan direnungkan,” ungkapnya.


‎Menurut Akbar, konsep tersebut juga merupakan simbol bahwa membaca mampu membawa seseorang melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas.


‎”Naik ke atas atap membuat kita melihat cakrawala yang lebih luas. Begitu pula membaca. Semakin banyak buku yang kita baca, semakin luas cara kita memahami kehidupan. Kami ingin menghadirkan pengalaman literasi yang tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi setiap peserta.”


‎Ia menambahkan, di tengah dominasi media sosial dan derasnya arus informasi digital, generasi muda membutuhkan ruang alternatif yang mampu mempertemukan mereka dengan buku sekaligus membangun budaya berdialog secara sehat.

‎”Melalui kegiatan seperti ini kami ingin mengajak anak-anak muda keluar sejenak dari layar gawai, menikmati senja, membuka lembar demi lembar buku, lalu bertukar pikiran. Dari ruang-ruang sederhana seperti inilah lahir ide-ide besar dan mimpi-mimpi baru,” tambahnya.

‎Kolaborasi bersama Mapala UMKOTA dan LPM UMKOTA juga menjadi bukti bahwa gerakan literasi dapat berjalan berdampingan dengan berbagai komunitas. Semangat kepedulian terhadap lingkungan yang dimiliki Mapala berpadu dengan semangat jurnalistik LPM dalam membangun budaya membaca, menulis, dan berpikir kritis di kalangan mahasiswa maupun masyarakat.

‎Selama kegiatan berlangsung, peserta tidak hanya membaca buku secara mandiri, tetapi juga mengikuti sesi diskusi santai mengenai pengalaman membaca, pentingnya menjaga budaya literasi di era digital, serta berbagi rekomendasi buku yang menginspirasi.

‎Suasana semakin syahdu ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Langit yang berubah menjadi perpaduan warna jingga, merah muda, dan kebiruan menghadirkan pemandangan yang memanjakan mata. Momen tersebut menjadi pengingat bahwa membaca tidak sekadar aktivitas intelektual, melainkan juga cara menikmati hidup dengan lebih sadar dan penuh makna.

‎Melalui Literasi on The Roof, Tenggara Reading House berharap dapat menghadirkan wajah baru gerakan literasi di Kabupaten Kolaka Utara. Komunitas ini ingin membuktikan bahwa literasi dapat tumbuh di mana saja, selama ada kemauan untuk belajar, berdialog, dan berbagi pengetahuan.

‎Ke depan, TRH berkomitmen untuk terus menghadirkan berbagai program kreatif yang mampu mendekatkan masyarakat dengan buku melalui konsep-konsep yang segar, inklusif, dan menyenangkan. Sebab, bagi Tenggara Reading House, literasi bukan sekadar kegiatan membaca, melainkan gerakan membangun kesadaran, memperluas wawasan, dan menumbuhkan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Example 300250
Example 120x600
Example 300×600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *