Scroll untuk baca artikel
Example 300250
Example floating
Example floating
Example 728x250
OPINIORGANISASI

MERDEKA, TAPI MENGAPA RAKYAT MASIH TERTEKAN?

72
×

MERDEKA, TAPI MENGAPA RAKYAT MASIH TERTEKAN?

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Drs H.Burhanuddin B, MA adalah Penasehat DPW LSM BPPI Sulsel , Dosen Senior Ilmu Filsafat Agama Islam di STAI AL QOZALI Kab. Barru Sulsel.

 

Example 300×600

Pergulatan Hati Rakyat di Tengah Peringatan 17 Agustus

Oleh: Burhanuddin

17 Agustus kembali datang. Merah putih berkibar di berbagai penjuru negeri. Lagu kebangsaan Indonesia Raya kembali menggema. Upacara kemerdekaan digelar, pidato-pidato tentang perjuangan para pahlawan disampaikan, dan rakyat diajak mengenang kembali jasa para pejuang yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan Indonesia.

Namun, di balik kemeriahan peringatan Hari Kemerdekaan, ada pergulatan hati yang mungkin tidak terdengar dari podium-podium resmi.

Sebagian rakyat bertanya dalam diam: apakah kita benar-benar telah merdeka?

Bukan karena rakyat tidak mencintai Indonesia. Justru karena kecintaan itulah pertanyaan tersebut muncul. Rakyat ingin kemerdekaan tidak hanya menjadi upacara tahunan, tetapi benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Di satu sisi, rakyat diminta mengibarkan Sang Saka Merah Putih sebagai simbol kemerdekaan. Tetapi di sisi lain, masih banyak rakyat yang merasa hidup dalam tekanan. Ada yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, ada yang berjuang mempertahankan usaha kecilnya, ada yang berhadapan dengan penggusuran, penyegelan tempat usaha, serta berbagai kebijakan yang menurut mereka justru semakin mempersempit ruang untuk bertahan hidup.

Di sinilah pergulatan hati rakyat itu muncul: mengibarkan bendera sebagai tanda cinta kepada negeri, atau mempertanyakan apakah kemerdekaan itu sudah benar-benar hadir dalam kehidupan mereka?

Rakyat tentu tidak menginginkan kekacauan. Rakyat tidak ingin negeri ini terpecah. Rakyat hanya ingin didengar.

Mereka ingin pemerintah melihat bahwa di balik angka-angka pertumbuhan ekonomi terdapat manusia yang sedang berjuang. Di balik laporan keberhasilan pembangunan terdapat keluarga yang masih menghitung uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Di balik gedung-gedung pemerintahan yang megah terdapat rakyat kecil yang terkadang harus berjuang keras hanya untuk mempertahankan tempat mencari nafkah.

Persoalan kemiskinan dan pendidikan juga masih menjadi pekerjaan besar bangsa ini. Ketika sebagian masyarakat dapat menikmati kemajuan, masih ada saudara-saudara kita yang menghadapi keterbatasan akses pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan kehidupan yang layak.

Rakyat juga semakin sensitif terhadap persoalan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Ketika masyarakat diminta taat membayar pajak, retribusi, sewa, dan berbagai kewajiban lainnya, mereka tentu berharap uang negara dikelola secara jujur, transparan, dan benar-benar kembali untuk kepentingan rakyat.

Sebab, rakyat tidak hanya membutuhkan pemerintah yang mampu membuat regulasi. Rakyat membutuhkan pemerintah yang mampu menghadirkan keadilan.

Regulasi seharusnya menjadi alat untuk menata kehidupan masyarakat, bukan menjadi beban yang membuat rakyat kecil semakin terhimpit. Penertiban seharusnya dilakukan dengan mengedepankan kemanusiaan, dialog, kepastian hukum, dan solusi, bukan sekadar tindakan administratif yang membuat rakyat kehilangan tempat mencari nafkah.

Fenomena pedagang yang tempat usahanya disegel, warga yang merasa terancam kehilangan tempat tinggal atau sumber penghidupan, dan masyarakat yang merasa aspirasinya tidak memperoleh respons, harus menjadi bahan introspeksi bersama.

Begitu pula dengan lembaga perwakilan rakyat.

DPR adalah representasi rakyat. Karena itu, ketika rakyat datang membawa aspirasi, menyampaikan keluhan dan meminta keadilan, suara mereka semestinya tidak berhenti di meja administrasi.

Wakil rakyat harus hadir ketika rakyat membutuhkan mereka.

Jangan sampai rakyat merasa bahwa wakil rakyat hanya dekat ketika membutuhkan suara pada saat pemilihan, tetapi jauh ketika rakyat menghadapi persoalan.

Momentum 17 Agustus seharusnya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: untuk siapa sebenarnya kemerdekaan ini diperjuangkan?

Para pahlawan tidak berjuang agar rakyat hanya bebas dari penjajahan bangsa asing. Mereka berjuang agar bangsa Indonesia mampu menentukan nasibnya sendiri, hidup bermartabat, mendapatkan keadilan, dan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Karena itu, kemerdekaan harus dimaknai lebih luas.

 

Merdeka dari kemiskinan.

Merdeka dari kebodohan.

Merdeka dari ketakutan.

Merdeka dari kesewenang-wenangan.

Merdeka dari korupsi.

Merdeka dari ketidakadilan.

Dan merdeka untuk menyampaikan kebenaran serta memperjuangkan hak secara konstitusional.

Jika rakyat hari ini merasa sakit hati, marah dan kecewa, jangan buru-buru menganggap mereka sebagai orang yang tidak mencintai bangsa.

Bisa jadi kemarahan itu justru lahir dari kecintaan yang sangat besar kepada negeri ini.

Rakyat yang diam belum tentu setuju. Rakyat yang membayar belum tentu rela. Rakyat yang mengikuti aturan belum tentu tidak merasa tertekan. Dan rakyat yang mengibarkan merah putih belum tentu tidak memiliki pertanyaan tentang masa depan bangsanya.

Namun demikian, rasa kecewa itu harus disalurkan melalui jalan yang damai, konstitusional, dan bermartabat. Jangan sampai kekecewaan terhadap pemerintah berubah menjadi kebencian kepada bangsa sendiri.

Indonesia adalah rumah kita bersama.

Yang harus diperjuangkan bukan runtuhnya rumah itu, tetapi bagaimana rumah besar Indonesia menjadi tempat yang adil bagi seluruh penghuninya.

Maka pada 17 Agustus ini, mungkin kita tetap harus mengibarkan merah putih.

Bukan karena kita menutup mata terhadap penderitaan rakyat.

Bukan pula karena kita menganggap semua persoalan telah selesai.

Tetapi karena merah putih adalah milik rakyat Indonesia. Ia adalah simbol perjuangan para pahlawan dan harapan bagi generasi yang akan datang.

Kita kibarkan merah putih sambil mengingatkan pemerintah: kemerdekaan harus dirasakan sampai ke lapisan rakyat yang paling bawah.

Kita kibarkan merah putih sambil mengingatkan wakil rakyat: dengarkan suara rakyat sebelum suara itu berubah menjadi keputusasaan.

Dan kita kibarkan merah putih sambil mengatakan kepada sesama anak bangsa:

Indonesia belum selesai. Perjuangan belum selesai.

Kemerdekaan politik telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Tetapi perjuangan menghadirkan keadilan sosial, kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, pemerintahan yang bersih, dan kehidupan yang bermartabat adalah perjuangan yang harus terus dilakukan dari generasi ke generasi.

Karena kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan, tetapi juga bebas dari rasa takut, bebas dari ketidakadilan, dan bebas untuk hidup dengan martabat sebagai manusia Indonesia.

Dirgahayu Republik Indonesia.

Merah putih tetap berkibar.

Tetapi biarlah kibaran itu menjadi pengingat bagi seluruh pemegang kekuasaan bahwa di balik setiap bendera yang berkibar, ada jutaan rakyat yang berharap satu hal yang sederhana:

ingin hidup adil, aman, bermartabat, dan sejahtera di negeri sendiri.

Example 300250 Example 300250 Example 300250 Example 300250
Example 120x600
Example 300×600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *