Scroll untuk baca artikel
Example 300250
Example floating
Example floating
Example 728x250
BREAKING NEWS

Barru Bersahaja, Perjalanan 24 Jam Menuju Morowali: Antara Layanan Negara, Realitas Jalanan, dan Potensi SDA yang Terabaikan

106
×

Barru Bersahaja, Perjalanan 24 Jam Menuju Morowali: Antara Layanan Negara, Realitas Jalanan, dan Potensi SDA yang Terabaikan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Barru, Centerinvestigasi.id — Perjalanan darat dari Makassar menuju kawasan industri Morowali pada Kamis, 26 Maret 2026, menghadirkan potret utuh tentang wajah pelayanan publik, kondisi infrastruktur, hingga tata kelola sumber daya alam di Sulawesi. Menggunakan armada Bus Madina Trans, perjalanan yang berlangsung selama kurang lebih 24 jam ini memperlihatkan beragam dinamika yang patut menjadi perhatian.

Saat singgah di Masjid Agung Barru, terlihat kehadiran posko mudik yang didirikan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Dua petugas tampak siaga memberikan pelayanan kepada para pemudik, sekaligus melakukan dokumentasi sebagai bentuk representasi kehadiran negara di tengah masyarakat. Kehadiran ini menjadi simbol komitmen pelayanan, meski masih menyisakan ruang untuk evaluasi terhadap efektivitasnya.

Example 300×600

Namun di sisi lain, perjalanan ini juga mengungkap lemahnya pengawasan lalu lintas di sejumlah titik. Kemacetan panjang terjadi di wilayah Bendolo akibat sebuah truk bermuatan kelapa sawit yang terbalik dan menutup sebagian badan jalan. Peristiwa tersebut tidak hanya menghambat arus transportasi, tetapi juga mencerminkan belum optimalnya pengendalian terhadap kendaraan angkutan berat yang berisiko tinggi terhadap keselamatan pengguna jalan.

Memasuki wilayah Bungku, realitas berbeda kembali tersaji. Hamparan kawasan hutan lindung yang luas terlihat belum dikelola secara maksimal. Ironisnya, di beberapa titik mulai tampak adanya alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit, durian, dan tanaman produktif lainnya. Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius terkait konsistensi kebijakan perlindungan hutan serta efektivitas pengawasan di lapangan.

Perjalanan berakhir di kawasan industri Bahodopi, pusat aktivitas industri berskala besar. Di tengah geliat investasi dan aktivitas ekonomi yang masif, peluang bagi pelaku usaha kecil tetap terbuka. Salah satunya adalah rencana pengembangan usaha kuliner sederhana seperti gorengan dan nasi kuning di wilayah Labota, yang berpotensi menjadi bagian dari ekosistem ekonomi lokal.

Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan cerminan kontras antara simbol kehadiran negara, persoalan klasik di lapangan, serta besarnya potensi sumber daya alam yang belum sepenuhnya dikelola secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Centerinvestigasi.id menilai, diperlukan langkah pengawasan yang lebih serius dan terukur dari pihak terkait, agar pelayanan publik tidak berhenti pada aspek seremonial semata, melainkan diiringi dengan tindakan nyata dalam pembenahan infrastruktur, penguatan sistem pengawasan, serta perlindungan lingkungan yang konsisten.

Pewarta : Deddy Asnadi
Editor : Min

Example 300250
Example 120x600
Example 300×600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *