Scroll untuk baca artikel
Example 300250
Example floating
Example floating
Example 728x250
BERITABREAKING NEWS

Ironi Dana Desa Mengalir Deras: Jalan Masuk Lorong Desa Labota Bahodopi Masih Berlumpur, Tiang Listrik Warga Diganti Kayu Swadaya

248
×

Ironi Dana Desa Mengalir Deras: Jalan Masuk Lorong Desa Labota Bahodopi Masih Berlumpur, Tiang Listrik Warga Diganti Kayu Swadaya

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Morowali Utara,Centerinvestigasi.id, 6 April 2026 – Di tengah gemerlap industri dan klaim keberhasilan penyaluran Dana Desa dari pemerintah pusat, sebuah realitas pahit masih menghantui warga di salah satu lorong masuk Desa Labota, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali Utara. Jalanan yang seharusnya menjadi urat nadi perekonomian dan akses pelayanan publik, justru berubah menjadi kubangan lumpur yang menyulitkan mobilitas warga, terutama saat curah hujan tinggi.

Kondisi ini semakin miris ketika disandingkan dengan besarnya anggaran yang diterima desa setiap tahunnya. Pemerintah pusat telah menaruh harapan besar agar Dana Desa mampu menciptakan pemerataan pembangunan hingga ke tingkat paling akar rumput. Namun, apa yang terjadi di lorong tersebut seolah menjadi anomali yang mempertanyakan prioritas penggunaan anggaran.

Example 300×600

Jalan Berlumpur, Akses Terputus
Berdasarkan pantauan di lokasi, kondisi jalan di lorong tersebut sangat memprihatinkan. Permukaan jalan hancur, berlubang, dan dipenuhi lumpur pekat yang membuat kendaraan roda dua pun sulit melintas dengan aman. Warga setempat mengaku sudah lama menunggu perbaikan, namun hingga kini belum ada sentuhan nyata dari pihak terkait.

“Sangat menyedihkan melihat kondisi ini. Padahal dana desa itu banyak, tapi kenapa jalan masuk ke rumah warga kami masih begini? Kalau hujan, kami seperti terisolasi,” keluh salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Tiang Listrik Kayu: Inisiatif Warga di Tengah Keterbatasan
Tak hanya masalah jalan, infrastruktur kelistrikan di lorong tersebut juga memelas. Tiang-tiang listrik utama yang seharusnya kokoh berdiri ternyata diganti oleh warga secara swadaya menggunakan tiang kayu. Warga terpaksa membeli dan memasang tiang kayu tersebut sebagai pengganti tiang permanen yang seharusnya disediakan oleh instansi terkait atau dikelola melalui anggaran desa.

“Inisiatif sendiri. Kami beli tiang kayu ini untuk mengganti tiang listrik yang seharusnya disiapkan oleh Kepala Desa (Kades). Kalau tidak kami ganti sendiri, mungkin sampai sekarang belum ada penerangan yang layak di sini,” ungkap warga lainnya dengan nada kecewa.

Kondisi tiang kayu yang rapuh tentu menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan warga, terutama saat cuaca buruk. Hal ini menjadi bukti betapa minimnya perhatian terhadap infrastruktur dasar di wilayah tersebut, meski status Desa Labota berada di kawasan strategis dekat pusat industri.

Harapan Warga kepada Kepala Desa
Warga lorong tersebut kini menaruh harapan besar kepada Kepala Desa (Kades) Labota. Mereka mendesak agar pemimpin desa segera turun tangan, meninjau langsung kondisi lapangan, dan mengalokasikan anggaran yang tepat sasaran untuk memperbaiki jalan dan mengganti tiang listrik kayu tersebut dengan tiang yang standar dan aman.

“Kami sangat berharap Pak Kades bisa memperhatikan nasib warganya. Jangan sampai warga biasa yang kalah suara tidak diurus. Ini soal keadilan,” tambah warga.

Pertanyaan Besar: Di Mana Keadilan Pembangunan?
Fenomena di Desa Labota ini memunculkan pertanyaan kritis mengenai distribusi pembangunan. Seringkali, perbaikan infrastruktur besar-besaran hanya terlihat di jalan utama yang dilalui pejabat atau di area yang menjadi sorotan kamera. Sementara itu, lorong-lorong kecil tempat warga biasa tinggal justru terabaikan.

Hal ini bertolak belakang dengan narasi keadilan yang selalu digaungkan oleh Presiden Prabowo Subianto, yang menekankan bahwa pembangunan harus dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Jika di daerah yang dekat dengan pusat industri saja masih terdapat kantong-kantong kemiskinan infrastruktur seperti ini, bagaimana dengan daerah yang lebih terpencil?

Mrdia Centerinvestigasi.id akan terus memantau perkembangan tindak lanjut dari pihak Desa Labota dan Pemerintah Kecamatan Bahodopi. Apakah keluhan warga ini akan didengar, atau hanya akan menjadi catatan kelam lain dalam sejarah pembangunan di Morowali Utara? Warga kini menunggu bukti nyata, bukan sekadar janji.

Catatan Redaksi: Berita ini disusun berdasarkan laporan langsung dari warga dan observasi kondisi lapangan per 6 April 2026. Konfirmasi resmi dari pihak Kepala Desa Labota sedang diupayakan untuk dimuat dalam pemberitaan selanjutnya.

𝗣𝗲𝘄𝗮𝗿𝘁𝗮 : 𝗗𝗲𝗱𝗱𝘆 𝗔𝘀𝗻𝗮𝗱𝗶
𝗘𝗱𝗶𝘁𝗼𝗿 :     Redaksi

Example 300250
Example 120x600
Example 300×600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *